Setelah Reog Ponorogo dari Jawa Timur dan tari Pendet dari Bali, kini negeri Jiran itu mengklaim tari Tor-tor dan alat musik Gordang Sambilan.
Kedua kesenian asal Batak, Sumatera Utara itu akan dimasukkan Malaysia sebagai warisan budaya mereka.
Tari Tor-tor ini biasa ditampilkan dengan gerakan berulang-ulang. Tarian ini biasa dibawakan saat acara adat, seperti acara perkawinan. Biasanya ditarikan oleh hadirin termasuk pengantin dan juga para muda-mudi.
Tarian ini juga dimaksudkan untuk membangkitkan roh atau jiwa yang tersembunyi dalam diri manusia.
Lihat gerakan tarian Tor-tor asal Batak, Sumatera Utara di tautan ini.
Rencana pendaftaran dua kesenian asli Sumatera Utara sebagai warisan budaya Malaysia itu disampaikan langsung oleh Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Datuk Seri Dr Rais Yatim.
"Tetapi (pengiktirafan ini) dengan syarat, pertunjukan berkala mesti ditunjukkan, bermakna tarian mestilah ditunjukkan, paluan gendang dipelbagaikan dalam pertunjukan di khalayak ramai," kata Rais seperti dikutip Bernama, 14 Juni 2012.
Mendengar rencana negeri Jiran itu pun, sejumlah kalangan di tanah air kebakaran jenggot.
Anggota Komisi X DPR yang membidangi Pendidikan, Kepemudaan, Olahraga, Kesenian dan Kebudayaan, Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio menilai, tari Tor-tor jelas berbeda dengan tradisi kultur Malaysia.
"Tari Tor-tor itu jauh beda dengan karakter kultur yang ada di Malaysia," katanya
Karena itu, dia meminta agar Malaysia menghentikan aksi klaim sepihak atas seni dan budaya bangsa Indonesia.
Ketua Fraksi Partai Demokrat, Nurhayati Assegaf menyatakan, klaim yang dilakukan Malaysia terhadap tari Tor-tor dan Gordang Sambilan akan sangat menyakiti hati rakyat Indonesia.
"Karena kita kan wakil dari rakyat, dan yang paling disakiti dalam hal ini adalah rakyat," katanya.
Berbeda dengan Ruhut Sitompul. Politikus asal Sumatera Utara ini tak ambil pusing dengan klaim Malaysia terhadap kesenian daerahnya.
Menurutnya, sikap main klaim itu membuktikan bahwa Malaysia tidak punya jati diri. "Malaysia cuma cari perhatian saja, cari perhatian dunia. Kita banyak kerjaan lain, ngapain negeri se-kecamatan Mampang dipikirin," kata Ruhut.
Politikus dari Partai Demokrat ini menambahkan, klaim Malaysia terhadap tarian asal Sumatera Utara itu justru hanya akan membuat imej Malaysia makin buruk. Bahwa, negeri Jiran itu benar-benar sebagai negeri yang hanya mengakui budaya negeri lain.
"Dunia punya perpustakaan, dunia tahu. Tahu itu kebudayaan asli negeri kita. Malaysia ditertawakan dunia," ucapnya.
Sementara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempersilakan langkah Malaysia yang ingin mengembangkan tari Tor-tor dan Gondang Sembilan milik Batak Mandailing, Sumatera Utara. Tetapi bila mengklaimnya, itu tidak dapat dibenarkan.
"Kalau sampai mengklaim, itu tidak dapat dibenarkan atau bahasa diplomatisnya, sangat disayangkan," kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ibnu Hamad.
Polemik Tor-tor merebak setelah komunitas Mandailing di Malaysia memohonkan pendaftaran tari tradisional ini ke akta warisan nasional Malaysia. Tujuannya, agar kebudayaan Mandailing setara dengan kebudayaan Jawa, Banjar, Bugis dan Minangkabau yang juga berkembang di Malaysia karena mendapatkan anggaran pemeliharaan
Tanggapan Malaysia terhadap pengklaiman budaya indonesia
Anggota DPD RI utusan Sumatera Utara, Parlindungan Purba, menegaskan, Pemerintah Malaysia membantah mengklaim tarian Tor-tor dan Gondang Sambilan sebagai budaya negara itu.
"Malaysia mengaku terjadi kesalahpahaman. Bukan diklaim sebagai budaya negara itu tetapi hanya usulan pencatatan terhadap warisan budaya yang dimiliki komunitas Mandailing di Malaysia, dimana budaya itu merupakan dari Sumatera Utara," katanya. Parlindungan bersama anggota DPD RI utusan Sumut lainnya, Darmayanti Lubis, di Jakarta, mengadakan pertemuan dengan Duta Besar Malaysia Untuk Indonesia, Dato' Syed Munshe Afdzaruddin untuk mengkonfirmasi dan membahas masalah adanya pengklaiman bahwa Tor-tor dan Gondang Sambilan merupakan budaya Malaysia. Kondisi itu menimbulkan "keributan" di masyarakat Indonesia khususnya di Sumut.
Parlindungan menjelaskan, dalam pertemuan itu, Dato' Syed Munshe mengulang pernyataan Kepala Penerangan Sosial dan Budaya KBRI di Malaysia, Suryana Sastradireja, yang mengatakan bahwa Malaysia tidak bermaksud untuk mengklaim Tor-tor dan Gondang Sambilan menjadi bagian dari budaya Malaysia.
Yang dilakukan oleh komunitas Mandailing yang ada di Malaysia, kata dia, adalah usulan pencatatan terhadap warisan budaya yang dimiliki oleh masyarakat suku itu.
Pernyataan Suryana tersebut sendiri diakui Dato' Syed, setelah melakukan komunikasi dengan Menteri Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Dr Rais Yatim dan pimpinan masyarakat Mandailing di Malaysia.
Mengutip pernyataan Dato' Syed, Parlindungan, menyebutkan bahwa pencatatan tersebut hanya untuk memenuhi ketentuan administrasi yang berlaku di Malaysia.
"Dato' Syed juga menjamin bahwa tidak akan ada tindak lanjut dari pencatatan tersebut, apalagi sampai mencatatkan kedua kebudayaan itu sebagai milik Malaysia ke UNESCO seperti yang disebut-sebut," kata Parlindungann.
Sebagai konsekuensi pencatatan budaya itu, komunitas Mandailing di Malaysia berkewajiban untuk melestarikan budaya tersebut.
Usulan pencatatan yang berasal dari komunitas Mandailing di Malaysia itu sendiri dilakukan karena ingin budaya tersebut diakui sama tinggi dengan budaya lain yang telah dicatatkan sebelumnya seperti budaya Jawa, Bugis, China, Melayu dan lain-lainnya .
Parlindungan menyebutkan, hasil pertemuan dengan pihak Malaysia akan disampaikan resmi ke pihak-pihak terkait dan termasuk ke masyarakat khususnya warga Sumut.
Media massa diharapkan bisa membantu penyebarluasan pernyataan pihak Malaysia agar tidak lagi terjadi polemik berkepanjangan soal Tor-tor dan Gondang Sambilan.
Dan berikut adalah Tari Tor-tor yang di klaim oleh malaysia
Masyarakat Indonesia harus bangga kalau bangsa lain menyukai budaya Indonesia sekaligus mempromosikannya ke penjuru dunia. Itu adalah bentuk pengakuan bangsa lain asal jangan diklaim menjadi budaya negara lain.Salam Pramuka !!





